MALUKU UTARA — Dell memposisikan XPS 13 terbaru sebagai laptop Windows teringan dan tertipis di keluarganya, dengan bobot hanya 2,2 pon (sekitar 1 kg) dan ketebalan 12,7 mm. Dengan harga segitu, laptop ini jelas menyasar pengguna yang menginginkan bodi logam kokoh tanpa harus merogoh kocek hingga belasan juta rupiah—sesuatu yang selama ini menjadi keunggulan MacBook Neo.
Sayangnya, untuk mencapai banderol tersebut, Dell harus memangkas sejumlah fitur. Alih-alih memakai desain premium XPS generasi sebelumnya, laptop ini tampil lebih sederhana dan mirip lini Inspiron. Touchpad-nya juga kembali ke mekanik, bukan haptic seperti pendahulunya. Yang lebih krusial: Dell menghadirkan lagi varian dasar 8 GB RAM yang sempat dihilangkan.
Redaksi sempat menjajal langsung varian dasar laptop ini. Begitu masuk ke sistem operasi, 80 persen kapasitas memori langsung terpakai oleh proses latar seperti Anti-malware service executable dan Secure biometrics. Setelah membuka beberapa tab browser dan aplikasi kerja seperti Slack serta Evernote, penggunaan RAM meroket ke 95 persen dan bertahan di angka itu.
Dampaknya terasa nyata: scroll window tersendat, dan Evernote sempat butuh 30 detik hanya untuk menampilkan daftar catatan. Pengalaman pakainya digambarkan seperti "berjalan di lumpur"—secara teknis bisa dipakai, tapi jauh dari kata nyaman. Dell sendiri tampaknya sadar akan keterbatasan ini, makanya opsi upgrade ke 16 GB layak dipertimbangkan meski menambah budget.
Hasil benchmark Geekbench 6 menunjukkan penurunan signifikan. Chip Core 5 320 di XPS 13 baru ini kalah telak dari Core Ultra 7 155H atau Snapdragon X Elite yang dipakai XPS 13 2024. Di tes grafis, Snapdragon X Elite hampir dua kali lebih cepat, sementara Core Ultra 7 155H tiga kali lebih kencang. Artinya, mencari unit XPS 13 bekas generasi 2024 bisa jadi pilihan lebih masuk akal daripada membeli yang baru.
Perbandingan ini memang agak tidak adil karena laptop ini bisa dianggap sebagai "XPS Neo"—produk yang secara tampilan mirip saudara mahalnya, tapi penuh kompromi demi harga murah. Namun, untuk urusan performa harian, kompromi tersebut terasa terlalu besar.
Bodi aluminiumnya terasa mulus dan solid, tanpa fleksibilitas berlebih yang sering ditemui di laptop seharga 7 jutaan. Kualitas build-nya setara MacBook Neo, dan layar 120Hz-nya lebih mulus untuk scrolling. Bobotnya juga setengah pon lebih ringan dari kompetitornya itu.
Jika prioritas utama adalah mendapatkan laptop Windows baru seharga sekitar Rp 11 jutaan dengan build quality MacBook Neo, XPS 13 2026 adalah opsi terbaik yang ada saat ini. Namun, pengguna yang butuh laptop untuk multitasking berat atau ingin perangkat bertahan 3-4 tahun ke depan sebaiknya memilih varian RAM 16 GB. Di sisi lain, mereka yang mengutamakan performa mentah sebaiknya melirik XPS 13 2024 bekas atau menunggu diskon untuk seri XPS 14 yang lebih premium.
Bagi pengguna di Indonesia, persaingan di kelas harga ini juga kian ketat dengan kehadiran laptop Snapdragon X dari berbagai merek yang menawarkan efisiensi daya lebih baik. Keputusan akhir tetap bergantung pada kebutuhan: prioraskan portabilitas dan merek, atau performa dan umur pakai panjang.