TERNATE — Empat desa yang jadi lokasi riset adalah Woekob, Lelilef Sawai, Lelilef Waibulen, dan Gemaf. Permukiman warga di wilayah itu berjarak sekitar 237 meter hingga 1,5 kilometer dari fasilitas industri.
Dari 20 responden, 17 orang atau 85 persen tercatat memiliki kadar arsenik (As) dalam urine di atas batas yang digunakan dalam penelitian. Kadar tertinggi mencapai 650,34 µg/L, sekitar 19 kali lebih tinggi dari batas 35 µg/L.
Ketua Komunitas FAJARU Maluku Utara, Hasma Nento, merinci sebaran temuan per desa. Di Woekob, tujuh dari delapan responden melebihi batas. Di Lelilef Waibulen, seluruh lima responden mengalami kondisi serupa.
Lelilef Sawai mencatat empat dari lima responden, sedangkan Gemaf dua dari dua responden. Selain arsenik, tiga dari 20 responden atau 15 persen memiliki kadar merkuri (Hg) dalam darah di atas batas, masing-masing 15,00 µg/L, 11,60 µg/L, dan 9,90 µg/L.
"Sementara seluruh responden memiliki kadar timbal (Pb) di bawah batas pemeriksaan," jelas Hasma dalam agenda pemaparan hasil riset.
Riset ini menyoroti dampak lingkungan industri terhadap kesehatan seksual dan reproduksi perempuan. Sebanyak 60 persen responden mengaku mengalami gangguan siklus menstruasi, 55 persen gatal pada area kewanitaan, dan 45 persen keputihan tidak wajar.
Keluhan lain yang ditemukan adalah batuk berkepanjangan 95 persen, gatal dan ruam kulit 80 persen, pusing atau sakit kepala berulang 75 persen, serta sesak napas 50 persen.
Hasma mencatat persoalan dalam sistem pencatatan layanan kesehatan. Keluhan gangguan haid, keputihan, dan gangguan reproduksi perempuan belum memiliki kolom khusus dalam sistem rekam medis puskesmas.
FAJARU mengutip data Puskesmas dan Dinas Kesehatan Halmahera Tengah. Kasus keguguran dan IUFD tercatat satu kasus pada 2024, naik menjadi lima kasus pada 2025 hingga 2026.
Kasus BBLR dan kelahiran prematur tercatat lima kasus pada 2024, meningkat menjadi 26 kasus pada 2025 dan 13 kasus pada 2026. Kematian bayi baru lahir naik dari satu kasus pada 2024 menjadi empat kasus pada 2025 dan lima kasus pada 2026.
ISPA dan pneumonia balita meningkat dari 521 kasus pada 2024 menjadi 621 kasus pada 2025 dan 1.110 kasus pada 2026.
"Kasus kematian bayi baru lahir juga tercatat meningkat dari satu kasus pada 2024 menjadi empat kasus pada 2025 dan lima kasus pada 2026," ujarnya.
Hasma menekankan data itu perlu dibaca sebagai konteks kesehatan masyarakat di wilayah penelitian. Data tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan seluruh kasus disebabkan paparan logam berat dari aktivitas industri.
Paparan berpotensi tetap terjadi meski warga menggunakan air galon untuk kebutuhan minum. Jalur paparan disebut melalui debu yang terhirup, kontak air saat mandi dan mencuci, serta konsumsi ikan dan hasil laut yang terkontaminasi.
Warga di sekitar kawasan industri dilaporkan menghadapi debu yang menutupi rumah, kebun, dan atap. Peneliti mencatat laporan warga terkait kondisi air Sungai Ake Jira dan Ake Wosia yang keruh dan berbau sejak 2022.
"Paparan disebut dapat terjadi melalui debu yang terhirup, kontak dengan air saat mandi dan mencuci, serta konsumsi ikan dan hasil laut yang terkontaminasi," katanya.
FAJARU meminta pemerintah tidak hanya memantau kesehatan pekerja industri, tetapi juga warga yang tinggal di sekitar kawasan industri. Organisasi itu mendesak pemantauan rutin kualitas udara, air, tanah, pangan, dan kondisi kesehatan warga.
Mereka juga meminta pemerintah menyediakan air bersih untuk kebutuhan mandi dan mencuci, serta memasukkan keluhan kesehatan reproduksi dan lingkungan dalam sistem pencatatan puskesmas.
"Pengelola kawasan industri juga diminta membuka data pemantauan lingkungan secara berkala kepada masyarakat serta melakukan pemeriksaan kesehatan khusus bagi perempuan dan anak-anak di desa dalam radius lima kilometer dari kawasan industri," pungkasnya.