MALUKU UTARA — Mengisi daya mobil listrik sampai penuh setiap hari ternyata mempercepat penurunan performa baterai, bukan sekadar mitos. Jawad Al Aziz, teknisi master EV Hyundai Fatmawati, menyarankan pengisian harian cukup di kisaran 80-90 persen. Kebiasaan ini jadi pertimbangan penting sebelum membeli mobil listrik bekas.
Baterai lithium-ion yang dipaksa terus terisi penuh membuat proses kimia di dalamnya bekerja lebih berat. Tekanan berlebih pada sel inilah yang mempercepat degradasi atau penuaan baterai, terutama pada mobil listrik bekas yang kondisi selnya sudah tidak baru lagi.
Jawad Al Aziz, teknisi master EV di Hyundai Fatmawati, menjelaskan bahwa sel baterai mobil listrik punya batas toleransi terhadap pengisian penuh. Kalau dilakukan terus-menerus, sel tersebut cepat stres.
"Baterai mobil listrik itu sensitif, jadi kalau sering diisi penuh, sel baterainya cepat stres," ujar Jawad.
Efeknya bukan cuma soal kapasitas yang berkurang. Pengisian hingga 100 persen juga mendorong pembentukan kristal lithium yang tidak stabil di permukaan elektroda, yang menurunkan efisiensi baterai dalam jangka panjang.
Untuk pemakaian sehari-hari, Jawad menyarankan pengisian cukup di kisaran 80 hingga 90 persen. Rentang ini menjaga baterai tetap sehat tanpa memberi tekanan berlebih pada sel.
Pengisian penuh sesekali masih bisa dilakukan, misalnya sebelum perjalanan jauh yang butuh jangkauan maksimal. Yang jadi masalah adalah menjadikannya kebiasaan harian.
Pada mobil listrik bekas, riwayat pengisian daya pemilik sebelumnya sulit diverifikasi. Baterai yang sering diisi sampai 100 persen bisa memiliki kapasitas tersisa yang lebih rendah dari ekspektasi.
Kondisi ini berpengaruh langsung ke jangkauan dan biaya penggantian baterai yang tidak murah. Karena itu, memeriksa kesehatan baterai (State of Health) lewat diagnostik resmi jadi langkah wajib sebelum transaksi.
Menanyakan pola pengisian harian ke penjual juga membantu, meski jawabannya tetap perlu diverifikasi lewat data kendaraan.