MALUKU UTARA — Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026). Peresmian ini menandai tahap komersial empat proyek industri sekaligus ground breaking tujuh pabrik baru di kawasan hilirisasi mineral kritis tersebut. Tujuan ekspor baterai belum diungkap dalam acara itu.
Empat proyek yang memasuki tahap komersial adalah Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioneer Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing. Sementara tujuh proyek yang di-ground breaking meliputi Guang Ching Nickel Cobalt, Inco Prima Material, Tinxi Material Indonesia, Weda Bay Aluminium, Bintang Karya Aluminium, Flat Solar Energy Indonesia, dan Foton Guangqing Motor Indonesia.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut ekspor perdana baterai kendaraan listrik sebagai bukti nyata bahwa strategi hilirisasi yang dijalankan pemerintah benar. Ia menegaskan kebijakan itu akan diteruskan.
"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini saya Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik dan empat proyek industri yang memasuki tahap komersial," kata Prabowo dalam pidatonya di kawasan IWIP, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis (8/10/2026).
Ia juga menyinggung kekayaan alam Indonesia yang menurutnya harus dikelola agar memberi manfaat bagi kesejahteraan rakyat. "Kita menyadari bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberi kepada kita anugerah kekayaan alam yang sangat bernilai sangat besar. Tapi kekayaan alam tersebut harus mampu kita kelola dengan baik sehingga dapat memberi manfaat kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyat dan bangsa kita," ujarnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menambahkan, ekosistem baterai kendaraan listrik kini sudah hadir di kawasan IWIP. Menurutnya, rangkaian proyek yang berjalan akan membuat Indonesia memiliki rantai pasok baterai EV secara menyeluruh, termasuk tahap daur ulang baterai.
"Dan tentunya seperti yang Bapak (Prabowo) sampaikan, hilirisasi ini ujungnya adalah industrialisasi. Dan di Morowali ini, dengan proyek-proyek yang baru ini, ini akan menyebabkan kita memiliki the whole ecosystem of EV battery, sampai dengan recycle baterainya," sebut Rosan.
Berdasarkan paparan Rosan, proyek-proyek yang berjalan di IWIP bergerak dari pabrik baterai berbasis nikel, produksi baterai aluminium elektrolit, alat berat berbasis listrik, hingga material baterai berbasis listrik.
Ekspor perdana ini menjadi penanda bahwa Indonesia tidak lagi berhenti di penambangan nikel mentah. Kawasan IWIP kini menampung beberapa tahap pengolahan lanjutan yang menyuplai komponen baterai kendaraan listrik, dari material katoda hingga sel baterai.
Yang belum diungkap dalam acara tersebut adalah negara tujuan ekspor baterai kendaraan listrik perdana ini. Pemerintah juga belum merinci volume maupun nilai ekspor yang dikirim pada tahap awal.
Bagi industri otomotif dalam negeri, kehadiran ekosistem baterai di IWIP berpotensi menekan ketergantungan pada impas sel baterai. Beberapa merek kendaraan listrik yang beroperasi di Indonesia saat ini masih mengimpor sel baterai dari China dan Korea Selatan sebelum dirakit menjadi pak baterai lokal.
Rosan menyebut proyek-proyek baru di kawasan itu akan melengkapi rantai pasok, dari pengolahan nikel hingga daur ulang baterai. Tahap daur ulang menjadi bagian penting karena dapat menutup siklus bahan baku dan mengurangi kebutuhan tambang baru dalam jangka panjang.