MALUKU UTARA — Indonesia dinilai tak perlu memaksakan target 100 persen kendaraan listrik karena biodiesel B50 sudah terbukti menurunkan emisi dan menghemat anggaran negara. Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menegaskan kedua jalur energi itu sama-sama punya keunggulan dan seharusnya dikembangkan beriringan. Pemerintah diminta mengambil kebijakan multipathway alih-alih mengikuti tekanan global untuk elektrifikasi penuh.
Pandangan itu disampaikan Iman dalam forum Evolution Forum bertema "Powering Indonesia Future: Green Cars, Blue Skies" pada Rabu (30/9). Ia menilai kebijakan energi dalam negeri harus mempertimbangkan kondisi geografis Indonesia yang luas dan belum merata infrastrukturnya.
"Indonesia itu sangat besar ya dan Indonesia itu bukan Jakarta, bukan Surabaya, bukan Medan, jadi memang enggak mudah begitu ya. Dan Indonesia sekarang sedang penuh tantangan, enggak cuma EV," kata Iman.
B50 Sudah Jalan, Bahkan Jadi Pelopor Dunia
Menurut Iman, Indonesia sudah punya alternatif sumber energi yang terbukti berjalan, yakni biodiesel campuran 50 persen atau B50. Ia menyebut capaian ini menempatkan Indonesia sebagai pelopor industri, penelitian, dan aplikasi biodiesel di tingkat global.
"Kita harus bangga karena kita nomor satu di dunia, pelopor untuk industrinya, penelitiannya, dan aplikasinya. Karena di dunia itu, paling di Eropa, di Amerika itu 7 persen mandatorinya, Indonesia, jangan salah, 50," ucapnya.
Manfaat B50, lanjut Iman, sudah terasa dari sisi anggaran negara maupun sektor pertanian. Kedua sektor itu mendapat dampak langsung dari pengembangan biodiesel dalam negeri.
Mengapa Pemerintah Diminta Tak Ikuti Tekanan Global
Iman menilai pemerintah perlu bersikap bijak menanggapi dorongan elektrifikasi dari negara lain. Indonesia, katanya, tidak harus mengikuti arus tersebut karena sudah memiliki jalur energi alternatif yang matang.
"Kita harus bijak, jangan dibenturkan harus EV, harus biofuel. Sama-sama harus jalan karena masing-masing punya keuntungan," jelasnya.
Ia menekankan pengembangan kendaraan listrik tetap penting, terutama karena Indonesia merupakan penghasil nikel. Pemanfaatan sumber daya alam itu dinilai harus terus didorong agar tidak sia-sia.
Multipathway: ICE Efisien, Hybrid, EV, hingga Biofuel
Alih-alih menetapkan satu jalur tunggal, Iman mendorong pendekatan multipathway dalam pengembangan energi kendaraan. Pendekatan ini memberi ruang bagi berbagai teknologi untuk berkembang sesuai kebutuhan wilayah masing-masing.
"Jadi bukan 100 persen EV, tapi multipathway, bahasa kerennya. Masih ada yang pake ICE, yang efisien, kemudian ada hybrid, ada EV, ada biofuel, atau kombinasi itu," ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia bisa memanfaatkan keunggulan tiap sumber energi tanpa harus mengorbankan salah satu. B50 dan kendaraan listrik dinilai bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua jalur yang saling melengkapi.