MALUKU UTARA — Indonesia menghadapi beban impor bensin yang membengkak dan bioetanol dinilai bisa menjadi solusinya. Guru Besar Universitas Pertamina, Iman Kartolaksono Rekswardoko, mengungkap peluang sekaligus tantangan pengembangan etanol sebagai campuran bahan bakar. Pemerintah sendiri menargetkan penerapan E10 mulai 2027 sebelum naik ke E20 pada 2028-2029.
Iman Kartolaksono Rekswardoko, Guru Besar Universitas Pertamina sekaligus pakar otomotif, menyatakan Indonesia punya potensi besar mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar nabati. Pernyataan itu disampaikan dalam forum Powering Indonesia Future: Green Cars, Blue Skies, Rabu (30/9).
Menurut Iman, kebutuhan energi alternatif kian mendesak karena Indonesia saat ini menjadi importir bensin terbesar di dunia. "Karena sekarang Indonesia itu termasuk importir nomor satu di dunia untuk bensin," ujarnya di forum tersebut.
Beban Impor Bensin Tekan Fiskal Negara
Iman menjelaskan bahwa ketergantungan pada bensin impor menciptakan tekanan besar terhadap fiskal. Setiap hari, ratusan ribu barel bensin dibakar habis dan harus diganti dengan pembelian dolar baru.
"Itu beban besar itu rupiah terus, tertekan terus karena datang satu hari berapa ratus ribu barel kemudian dibakar hilang lagi," kata Iman. "Terus setiap hari begitu jadi kita harus cari dolar lagi. Itu fiskalnya begitu."
Penggunaan campuran etanol pada bahan bakar minyak dinilai dapat menjadi solusi strategis untuk menjaga stabilitas fiskal dan ketahanan energi nasional.
Bahan Baku Etanol Belum Tersedia Melimpah
Meski potensinya besar, Iman menyoroti tantangan utama pada ketersediaan bahan baku. Berbeda dengan biodiesel berbasis kelapa sawit yang pasokannya sudah melimpah, industri etanol memerlukan waktu pengembangan lahan yang panjang.
"Di Indonesia bahan bakunya tuh belum tersedia dengan banyak seperti untuk biodiesel," tutur Iman. "Dan itu enggak mudah karena bahan bakunya itu harus menyediakan lahan yang besar, kemudian ditanam, kemudian dibesarkan kemudian bisa dipanen. Itu butuh waktu paling enggak 5 sampai 10 tahun."
Jika pemerintah berencana menerapkan mandatori pencampuran etanol hingga tingkat E10 atau E20 dalam waktu dekat, opsi impor bahan baku sementara sulit dihindari sebelum produksi domestik siap sepenuhnya.
Manufaktur Otomotif Nasional Sudah Siap
Industri manufaktur otomotif di Indonesia menyatakan kesiapannya menerapkan aturan penggunaan BBM dengan bauran etanol. Indonesia juga sudah menjadi tempat produksi mesin flexible fuel untuk kebutuhan ekspor.
"Indonesia manufakturnya Toyota mengimpor engine flexible fuel vehicle ke Brazil. Jadi untuk E80 sebenarnya sudah," ucap Iman. "Nah, cuma ya itu tadi kita bisa enggak memproduksi besar-besaran etanol gitu seperti biodiesel."
Target Pemerintah: E10 Mulai 2027, E20 Menyusul
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah membidik penerapan bensin dengan campuran E10 dapat dimulai pada 2027. Kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap sebelum ke E20 yang perencanaannya ditargetkan rampung pada rentang 2028 hingga 2029.
Saat ini, Pertamina baru memasarkan BBM berbasis E5 melalui produk Pertamax Green. Pemerintah menargetkan penerapan E10 dapat dilakukan secara lebih luas terlebih dahulu guna menekan ketergantungan impor bensin serta mematangkan industri dalam negeri sebelum melangkah ke E20.